REGULAR TRIP: Secangkir Kehangatan Bromo

Hong Ulun Basuki Langgeng **(dalam bahasa Suku Tengger Bromo bermakna salam kesejahteraan dan keselamatan bagi kita semua).

Empat tiga puluh pagi sang surya mulai merekah di timur Kaldera Bromo. Penanjakan merupakan salah satu titik terbaik untuk menikmati suguhan matahari terbit tersebut. Secangkir kopi atau cokelat panas adalah kehangatan sempurna yang dibutuhkan. Ketika langit mulai membiru merupakan saat yang tepat untuk bergeser menuju sabana bukit teletubies, mendaki kawah bromo dan menikmati pasir berbisik yang menghampar di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bertajuk Secangkir Kehangatan Bromo mari bergabung bersama JanganJalanJalan.com mengikuti open trip atau Private Trip tiap akhir pekan. Kami bukan penyedia wisata liburan melainkan mengajak anda sekalian untuk merasakan sendiri keindahan alam Indonesia.

Let’s Join!

WAKTU :

Trip akan diadakan setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) pada bulan September 2015

  1. 5–6 September 2015
  2. 12–13 September 2015
  3. 19–20 September 2015
  4. 26–27 September 2015

HARGA TRIP :

6 Pax 675.000 IDR / Pax
12 Pax 585.000 IDR / Pax

P.s. Apabila tidak memenuhi kuota tersebut, maka harga yang dibebankan akan menyesuaikan. Berapa pun jumlah peserta pasti berangkat, dengan sedikit perubahan dalam itinerary dan fasilitas yang akan didapatkan.

This slideshow requires JavaScript.

ITINERARY :

Day 1
16.00 WIB Penjemputan Peserta di Meeting Point yang telah ditentukan. (Bandara Int. Juanda/Stasiun Gubeng/Stasiun Pasar Turi/Terminal Bungurasih)
Coffee Break dan Makan malam.

Mencicipi sajian varian kopi nusantara dari berbagai daerah Indone
sia di 45 Coffee Shop.

20.00 WIB Destinasi pertama yang akan dikunjungi adalah Jembatan Suramadu.
22.00 WIB Perjalanan Menuju Gunung Bromo
P.s. Waktu penjemputan di meeting point dapat disesuaikan dengan jadwal kedatangan dari kota asal.
Day 2
02.00 WIB Persiapan berangkat untuk melihat matahari terbit (sunrise) dari Penanjakan
06.00 WIB Melanjutkan perjalanan Menuju Pura Luhur Poten dan mendaki kawah Bromo.
08.00 WIB Menuju ke Sabana dan Bukit (teletubies) dan Pasir Berbisik
09.00 WIB Breakfast/Coffee break

Makan Pagi dari Lava View di mana lokasi tersebut langsung menghadap Gunung Batok dan Bromo

10.00 WIB Meninggalkan kawasan wisata Gunung Bromo dan menuju destinasi selanjutnya di Air Terjun Madakaripura
12.00 WIB Tiba di Air Terjun Madakaripura
15.00 WIB Kembali menuju Surabaya
18.00 WIB Tiba di Surabaya dan mampir pusat oleh-oleh. Kemudian peserta akan diantar kembali ke meeting point masing-masing.

Trip berakhir.

FASILITAS :

  1. Transportasi PP sesuai dengan itinerary dengan Kijang Innova dan Elf long.
  2. Jeep 4WD
  3. Menunggang kuda menuju Pura Luhur Poten dan Kawah Bromo
  4. Tiket masuk kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Madakaripura.
  5. Makan malam dan Breakfast di Lava View
  6. Coffee Break
  7. Tip Guide
  8. Dokumentasi
Contact Person Arif Abdillah

+628133779232 / Pin BBM : 544CCCB4 / Line : riphabdillah

Ahmad Muhaimin

+6282257817045 / Pin BBM : 32D666A1

Rindu Ketinggian

Rindu itu ada untuk ditumpahkan. Ketika merindukan seseorang kumpulkan dengan seksama lalu segera tumpahkan. Biarkan (si doi) siapa pun orangnya, apapun jenis kelaminnya bisa merasakan siksaan batin yang bernama rindu itu. Mulailah berkirim pesan sekadar mengucapkan salam. Sebelum semuanya tenggelam. Hilang karena gengsi, malu dan rasa sungkan. Pada akhirnya mata yang saling bertemu adalah jawaban mutlak yang tak dapat ditawar. Rindu kadang susah disederhanakan oleh tindakan.

Lain halnya ketika harus rindu dengan ketinggian. Layaknya sebuah hubungan jarak jauh (dan tinggi), saya harus mengurungkan niat ketika kangen sewaktu-waktu dengan ketinggian. Kangen yang tetiba muncul melihat segerombolan pemuda dan pemudi yang menggendong ransel di tepian jalan. Menunggu angkutan. Rindu yang satu ini tak semudah memencet tombol hijau untuk menelpon seseorang. Butuh banyak persiapan dan modal. Pada satu kali ekspedisi naik gunung saja, minimal membutuhkan waktu 3 harian untuk mencapai tapal batas ketinggian. Tentu saja estimasi waktu ini untuk ukuran saya yang mengusung tagline alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal sampai). Ditambah lagi setelah hampir dua tahun tidak menjejalkan kaki dengan jalanan menanjak dan udara tipis, rasa kangen ini semakin sulit untuk diwujudkan. Maka foto yang tersimpan dalam hardisk sebagai pengobat rindu yang tak tersalurkan. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan memosting beberapa foto dari Gunung Rinjani. Salah satu tempat yang wajib (kalian) kunjungi sebelum mati. Lebih tepatnya perjalanan menggapai 3726 mdpl atau bisa juga disebut dengan Road to Rinjani.

Namun setelah saya amati dengan seksama dan tempo yang sesingkat-singkatnya, saya lebih merindukan bagaimana perjalanan menuju Rinjani, bertemu dengan orang baru, bertukar cerita dengan orang kenal beberapa menit yang lalu, panas-panasan naik angkot, menunggu penumpang angkot penuh, mampir ke tempat baru di luar rencana, nyasar, kelaparan. Ya, kalau ibarat kangen seseorang, kamu merindukan fisik dan segala tingkah laku mereka. Mulai dari senyum, ketawa bahaknya, emosi, kemarahan, upil, kentut bahkan airmatanya, semuanya. Karena bagian-bagian tersebut merupakan suatu kesatuan utuh yang bersabda atas nama, rindu. Karena setelah dipilah satu per satu banyak sekali foto yang layak untuk diposting, maka untuk bagian pertama ini masih gambaran bagaimana perjalanan menuju Pulau Lombok. Selanjutnya akan saya unggah lanjutan perjalanan tersebut (biar ada bahan buat postingan berikutnya).

Bukaan Pertama: Terminal Induk Sri Tanjung, Banyuwangi.

Bukaan Pertama: Terminal Induk Sri Tanjung, Banyuwangi.

Menuju Pulau Bali

Menuju Pulau Bali

Angkat jangkar ke Lembar, Lombok.

Angkat jangkar ke Lembar, Lombok.

Silahkan dibaca, sudah sampai mana.

Silahkan dibaca, sudah sampai mana.

Tanah lapang tepi jalan raya di Lombok Barat

Tanah lapang tepi jalan raya di Lombok Barat

Pantai Mentinting Ria

Pantai Mentinting Ria

Beberapa saat setelah lepas dari Padang Bay

Beberapa saat setelah lepas dari Padang Bay

Masih pagi di Mentinting Ria

Masih pagi di Mentinting Ria

Di Lombok disebut Cidomo, kalau yang bikin macet itu Si Komo.

Di Lombok disebut Cidomo, kalau yang bikin macet itu Si Komo.

Kebutuhan hidup untuk dua minggu kedepan

Kebutuhan hidup untuk dua minggu kedepan

Penutup tulisan ini diselesaikan di Pendopo Alun-Alun Sidoarjo. Banyak orang hilir mudik menghabiskan sisa sore yang cerah. Termasuk beberapa balita yang belajar menari dengan diiringi alunan musik tembang jawa. Sementara di sudut yang lain, mata tetiba basah. Entah ini rindu pada bagian yang mana. Tak lama kemudian adzan magrib memecah langit yang mulai sesak oleh kenangan.

Suramadu Tak Kunjung Berbulan Madu

Halaman depan Metropolis (Koran Jawa Pos, 22/07/15) menguak perkembangan Suramadu selama ini. Sudah lebih dari enam tahun semenjak diresmikan Presiden tercinta kita (kita? kamu aja) Susilo Bambang Yudhoyono, belum ada perubahan yang signifikan. Kaki-kaki Suramadu yang digadang-gadang menjadi kawasan industri, modern dan asri tidak menunjukan perkembangan berarti. Sebenarnya sudah ada BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu) yang bertugas menghidupkan kawasan sekitar Suramadu. Namun apa hendak dikata nasi belum menjadi bubur, dimasak aja belum.

Mayoritas pengusaha besi tua di Indonesia (khususnya Jawa Timur) adalah orang Madura. Nah, berita yang kita dengar tentang baut dan mur yang hilang dari jembatan penghubung Pulau Jawa–Madura tersebut lebih sering muncul ketimbang perkembangan kawasan Suramadu. Apakah dua premis di atas berkaitan? bisa iya bisa tidak. Kalau iya berkaitan, saya bisa disangkakan pasal pencemaran nama baik, dan belum tentu pelakunya pengusaha besi tua dari Madura. Tetapi kalau tidak, nyatanya mur baut penahan jembatan sudah hilang dicuri tangan-tangan setan. Apapun yang terjadi sate Madura tetap enak, sotonya juga. Katanya ramuan Madura juga.

Suramadu telah menjadi ikon baru Jawa Timur. Hampir dipastikan setiap wisatawan menambahkan tempat kunjungan liburan ke jembatan tersebut. Niat mulia para pendahulu kita yang ingin menggabungkan sisi Madura dan Surabaya dengan adanya Suramadu hanya dijadikan sekadar sebuah jembatan biasa. Tempat nyolong-nyolong foto di tengah jembatan, karena berhenti di tengah jembatan artinya ditilang, tempat pacaran sambil mangap liat laut dan tempat pelarian kendaraan hasil kriminal. Tentu saja jembatan sepanjang lima kilometer tersebut layak dibanggakan. Ketika malam hari sepanjang jembatan akan berkilauan lampu warna-warni pelangi. Saya curiga jangan-jangan Suramadu juga mendukung LGBT di Jawa Timur. Hmmm.

IMG_2015

Bagi yang mau buang air juga ada!

Suramadu

Suramadu

Bagi anda sekalian yang sedang berpakansi di Surabaya patut kiranya mengunjungi jembatan megah tersebut untuk sekadar tahu dan numpang lewat menuju Madura. Kemudian menjadi kenangan tapi jangan sampe nangis di pojokan. Kasian,

Trip Batangan 24 Jam

Tak ada yang bisa diandalkan, kecuali dirimu sendiri. Itulah yang terjadi ketika dua orang batangan (baca: pemuda) kesasar di persawahan warga. Mengandalkan petunjuk dari GPS yang tertanam pada telepon pintar, tetap saja salah jalan. Terlalu percaya dengan teknologi kemudian melupakan orientasi medan jalanan (signage). Malu bertanya sesat di jalan. Bukan malu, namun tidak ada manusia yang berkeliaran, maklum saya nyasar di sepertiga malam yang terakhir. Sebelum bertanya saya harus memastikan terlebih dahulu bahwa lawan bicara saya kakinya masih menempel tanah. Alih-alih informasi yang saya dapatkan, malah kuntilanak yang ngajak kenalan. Begitulah ketika saya harus untuk pertama kalinya berkunjung ke pantai paling fenomenal se-kabupaten Jember, Jawa Timur. Pantai Papuma.

Adzan subuh belum berkumandang ketika saya sudah tiba di Pasir Putih Mandalikan tersebut (Papuma). Udara sejuk pagi, suara deburan ombak, sunyi, sesekali pepohonan yang saling menghempas terkena angin, suasana yang bakal menenangkan. Ketika langit mulai beranjak muda dentuman lagu-lagu dangdut koplo mulai merusak keheningan pantai yang saya bayangkan. Terlalu dini untuk menikmati polusi suara. Beruntungnya saya datang ketika pengunjung hanya beberapa gelintir manusia. Pantai yang bebas dari sampah. Sayangnya musim kurang tepat untuk menikmati matahari terbit di tepian pantai. Matahari sudah mulai menyengat dan saya harus begegas pindah haluan. Terlalu riskan untuk menghabiskan waktu berduaan di pantai lebih lama dengan batangan, saya takut komentar lebih miring dari penduduk sekitarnya.

Kopi. Pantai. Sepi.

Kopi. Pantai. Sepi.

Aktivitas Nelayan di Tanjung Papuma

Aktivitas Nelayan di Tanjung Papuma

Masih pagi masih sunyi di Pantai Mandalika

Masih pagi masih sunyi di Pantai Mandalika

Sejak awal trip berikut memang direncakan tidak lebih dari 24 jam. Sehingga masih ada jeda istirahat sebelum kembali bertemu hari senin. Tujuan trip 24 jam berikutnya yakni Tumpak Sewu. Tumpak Sewu atau Cuban Sewu berada di Perbatasan Lumajang-Malang, tepatnya di Kecamatan Pronojiwo. Lokasi air terjun tersebut berada pada satu kawasan dengan Goa Tetes. Dikarenakan tidak tidur semalaman mata menjadi sangat sepat layaknya buah salak yang harus dipanen sebelum waktunya. Beruntung selama berkendara saya masih betah melek. Nampaknya memang saya berpotensi menjadi sopir bus malam antarkota antarpropinsi.

Rentang jarak antara Papuma dengan Tumpak Sewu sekitar 190 kilometer. Melibas jalur selatan Kabupaten Lumajang melewati piket nol hingga perbatasan Malang. Begitu memasuki Kabupaten Lumajang, nama Goa Tetes cukup termasyhur. Hal tersebut saya buktikan ketika (modus) bertanya dengan mbak-mbak pramuniaga Indo*maret yang dijawab dengan lugas, tangkas dan benar. Salah satu jalur menuju Tumpak Sewu berada di pekarangan warga. Hal tersebutlah yang menjadikan pengelolaan masih dipegang oleh karang teruna setempat.

Cukup berjalan 400 meter dari jalan raya aliran air terjun setinggi 180 meter tersebut sudah bisa dinikmati. Namun, untuk menikmati dari dekat butuh perjuangan yang ekstra. Pengunjung harus menuruni anak tangga (dan keluarganya) yang sangat curam, sangat curam, yang terbuat dari pijakan bambu. Tanah liat yang basah menjadikan jalur semakin licin dan siap-siap mengeluh. Sangat disarankan menggunakan sandal outdoor (gunung) atau sepatu yang antislip. Atau minimal pakai sandal jepit (yang baru) dan bukan sandal kulit seperti peserta trip pada tulisan ini. Perjalanan turun-naik Tumpak Sewu paling lama memakan waktu 2 jam. Kalau lebih dari angka tersebut, juga tidak menjadi masalah. Kasian pengunjung lain, kan jalur cuma satu. Oiya, persiapkan juga baju ganti yang bersih dan peralatan mandi. Bisa dipastikan ketika menuruni Tumpak Sewu semua pengunjung dipastikan basah.

Tumpak Sewu atau Cuban Sewu

Tumpak Sewu atau Cuban Sewu

kondisi jalur menuruni air terjun

kondisi jalur menuruni air terjun

Setelah kurang puas, karena tidak ada camera waterproof, akhirnya saya memutuskan segera melanjutkan pulang sebelum gelap. Badan sudah terasa lelah namun perjalanan harus dilanjutkan. Menjelang sore hingga malam lalu lintas arah Malang–Dampit didominasi truk muatan pasir. Jalanan yang berkelok naik turun membuat semua kendaraan susah bermanuver dan harus berbaris rapi. Hal tersebut yang bisa dijadikan pertimbangan ketika memilih jalur Malang ketika petang.

Trip 24 jam berhasil dengan melibas jarak yang hampir 500 kilometer. Karena kelelahan dan hilang konsentrasi bemper depan harus baret jadi korban senggolan dengan truk pasir. Sebuah pelajaran berharga bahwa kali lain wajib membawa stok batangan pengganti sopir pada trip berikutnya. Tidak hanya batangan perlu juga mengajak yang muslimah, biar berkah.

Seperempat Abad!

April adalah bulan keempat dalam Kalender Gregorian. Namanya diambil dari bahasa Latin “aperire” yang berarti membuka. Bulan tersebut memiliki 30 hari dalam setiap tahun berjalan, tidak lebih dan tidak kurang. Sama seperti para Mas-Mas dan Mbak-Mbak penjaga selang di SPBU terdekat di kota anda. Pasti Pas.

Selama menjalani hidup bulan april memang istimewa. Membuka akan banyak hal yang luar biasa. Tujuh tahun yang lalu pada bulan yang sama, saya berkesempatan nyasar di hutan sendirian. Sebagai survivor menjadikan saya berada pada titik nadir kehidupan. Titik antara hidup dan mati. Berlanjut dua tahun berselang, saya harus berjuang bisa lulus–dari yang kata orang adalah masa paling indah dalam hidup–Masa SMA. Sebuah fase kehidupan remaja dengan jalinan pertemanan yang terikat kuat. Simpul persaudaran yang dirajut di bawah naungan jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dimana jurusan tersebut selalu dianggap kumpulan anak nakal, bukan papa nakal seperti idiom kebanyakan. Mundur kembali tiga tahun dari sekarang, gantian saya harus menjadi pemburu rente tanda tangan. Tugas mahasiswa tingkat akhir tak lain tak bukan adalah berburu dosen pembimbing demi sebuah coretan kebahagiaan semu, revisi skripsi. Setahun yang lalu, saya merelakan bolos ngantor (akhirnya resign) demi tiket promo ke Wakatobi. Mundur lagi pada dua tahun sebelumnya, bersyukur bisa menghabiskan masa lajang, dan masih belum habis sampai sekarang, ke Pulau Komodo dan Makassar. Dan momen yang terdekat, tanggal satu awal bulan ini, terpaksa harus saling ditinggalkan dan meninggalkan orang yang dicintai, kekasih. Padahal masih suka sama suka, sayang sama sayang. Tjurhat™. Saya yakin itu cuma kejutan April Mop. Cuma bercanda kok. Sebentar yaa, mau pamit nangis dulu

Begitulah bulan april.

Hingga penghujung hari, dua puluh tujuh april 2015. Hanya google plus, wordpress dan Job Street yang memberikan ucapan selamat. Yak… Benar, bulan april saya berulang tahun. Seperempat abad. Happy Birthday to Me! Saya sudah berencana menghadiahi ulang tahun saya sendiri dengan sebuah tiket (promo) ke Kuala Lumpur. Sayangnya karena alasan sentimentil (baca: uang saku) dan waktu akhirnya saya harus menghanguskan tiket tersebut begitu saja. Namun, penghujung bulan April pula saya berkesempatan untuk melanjutkan studi. Mimpi yang sempat tertunda dua tahun yang lalu. Demikian secuplik cerita (yang ternyata sudah) saya jalani dua puluh lima tahun terakhir. Kelak dua puluh lima tahun ke depan, saya akan membaca tulisan ini kembali bersama kamu (Iya, Kamu!) dan anak cucu. Ditemani segelas kopi dan tawa bahagia pada sebuah sore menjelang magrib. Ditutup dengan sholat jama’ah bersama (mulia dan pencitraan sekali). April yang komplit nan istimewa.

Alhamdulillah. Terima kasih Yaa Rahman Yaa Rahim, masih diberi kesempatan khilaf dengan dosa-dosa kecil. Kemudian diberi waktu buat insaf kemudian. Jadikanlah mimpi jalan-jalanku jadi kenyataan. Didekatkan dengan hal yang baik-baik. Segala niat, hajat dan urusan dilancarkan tanpa hambatan. Semoga kebahagian jiwa dan ketenangan hati akan memenuhi kebahagian sepanjang tahun. Sepanjang hayat. Aamiin.

***Ehhh… Aku gak diomelin kan, kalo berdoa di media sosial. Yaudah, maafin.*

Happy Birthday!

Happy Birthday!

Just stop the clock. I don’t want to get old. Btw, where’s my cake? Birthday greetings?

Book Review: 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor

Long weekend (hari libur nasional) sebenarnya bukan momentum yang tepat untuk bisa menikmati jalan-jalan. Bisa dipastikan yang terjadi adalah harga tiket melambung, penginapan penuh dan membeludaknya jumlah wisatawan pada warna kalender yang memerah. Kondisi demikian akan membuat tujuan liburan yang tenang dan santai buyar seketika. Maka bagi mereka yang tidak berminat melakukan liburan, maka membaca buku tentang cerita perjalanan bisa dilakukan. Duduk manis di rumah sembari melihat melihat update status teman-teman yang jalan-jalan, begitukan. Terdengar menyenangkan padahal lumayan menyedihkan. Ironi.

Selamat Membaca

Selamat Membaca

Salah satu buku yang berhubungan dengan travelling adalah 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor: Kisah anak muda yang kesasar di empat benua. Sebuah buku yang disusun J.S. Khairen dari cerita perjalanan jalan-jalan para mahasiswa ke luar negeri. Tujuan utama dari perjalanan tersebut adalah menenuhi tugas kuliah. Iya, kuliah, kelas Pemasaran Internasional (Pemintal) yang diasuh Prof. Rheinald Khasali mewajibkan mahasiswa berangkat ke luar negeri. Menjadi menarik, travelling ke luar negeri tersebut harus dilakukan sendirian. Salah satu tujuannya adalah untuk kesasar. KESASAR!

Setiap mahasiswa harus memilih negara yang berbeda satu sama lain, tanpa menggunakan travel agen dan jasa sejenisnya. Sehingga mulai mencari uang saku, paspor, visa, tiket hingga booking hotel harus dilakukan secara mandiri. Pada minggu pertama perkuliahan, tugas pertama dari sang dosen adalah membawa paspor. Paspor merupakan kunci melihat dunia sehingga tak mungkin bisa melihat dunia (sebenernya) tanpa empat puluh delapan lembaran (paspor) tersebut. Selanjutnya mahasiswa dipersilahkan memilih negara, selain malaysia, Singapura, Brunei dan Timor-Timur, dan harus berangkat sebelum jadwal Ujian Tengah Semester. Praktis tidak lebih dari 3 bulan, tugas harus diselesaikan.

Membaca kisah perjalanan selalu menyenangkan. Terlebih traveling harus dilakukan seorang diri di negeri antah berantah. Sang profesor ingin mengajarkan bagaimana toleransi ditanamkan. Tolerasi tidak akan tumbuh dalam bangku perkuliahan atau ruang sunyi dalam perpustakaan. Merasakan menjadi minoritas di negara orang lain adalah salah satu cara paling efektif. Perbedaan bahasa, kultur, agama, budaya, gaya hidup hingga makanan sehari-hari merupakan pengalaman yang akan berkesan seumur hidup. Pengalaman yang tidak akan terlupa apalagi mereka yang berangkat dalam travelling tersebut masih berada pada tahap perkembangan menuju usia dewasa (mahasiswa semester awal). Sayangnya tidak semua berpikiran terbuka, bahkan di kalangan akademisi itu sendiri. Sang Profesor juga menemui hambatan hingga cercaan dari metode pengajaran tersebut. Beruntung sekali mereka yang sempat diasuh langsung oleh Guru Besar Manajemen tersebut.

Jadi tak perlu ikut kelas Pak Rheinald Khasali kan, untuk mendapat jawaban kenapa harus (sering-sering) travelling?

Mulailah dengan membaca buku, kemudian hati dan perasaan. Eaaa. Tabik.

 

Menyoal Monumen Jayandaru

Pada minggu yang tenang. Di bawah Pohon Sono yang rindang. Sembilan sosok manusia terekam menjalakan aktivitas. Meskipun berada pada satu tempat mereka mendiamkan satu sama lain. Bibir mereka terkunci. Seolah-olah mereka terbuat dari batu. Setelah diamati mereka memang patung. Dasar patung! Sosok-sosok tersebut yang akan menghiasi sisi Timur alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Patung tersebut mencoba merepresentasikan mata pencaharian masyarakat kota delta. Mulai nelayan, petani, pembuat kerupuk, penjaja makanan, dan ini itu sebagainya. Patung yang lahir dari rahim I Wayan Winter (tanpa Sonata) tersebut berbentuk manusia dengan rasio 5 kali lipat besarnya. Masing-masing patung mempunyai tinggi hingga 7 meter. Apabila dikalkulasi keseluruhan karya pahat tersebut akan mencapai 25 meter. Layak dibanggakan, bukan? ternyata bukan.

8ZHcEf4OeM

Baru seumur Jagung (source)

Tepat sebulan yang lalu, kesembilan patung mulai diletakkan dengan tajuk Monumen Jayandaru. Belum juga diresmikan Monumen Jayandaru harus diturunkan paksa. Kelompok ormas islam mengklaim bahwa para patung tersebut adalah sosok berhala dan tidak layak dibangun di Sidoarjo yang katanya kota santri. Menurut kabar yang beredar di media masa setempat bahwa, patung tersebut dibangun atas dana CSR perusahaan pengolahan hasil laut PT Sekar Laut. Karena bentuk patung sempurna menyerupai manusia, ormas Islam menganggapya sebagai berhala, dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kontroversi Jayandaru adalah dua sisi mata uang, yang kemudian jatuh di kubangan. Maka akan terpecah antara pro dan kontra dari perbedaan sudut pandang. Perdebatan hanya akan membawa sakit hati kelompok maupun perseorangan. Dan sepanjang sejarah Republik ini berdiri, belum ada yang mengangkat tangan untuk mengakui dan menyalahkan diri sendiri. Semua mau benar itulah kenapa bocoran Unas setiap tahun selalu beredar. Kadang yang bijak tidak mempunyai kuasa, dan sangat jarang yang berkuasa menjadi bijak. Para penguasa yang bijak begitulah lebih kurang sosok The Philosopher King.

Tidak patut kiranya saya memperdebatkan makna ‘berhala’ dengan basis keilmuaan saya yang lebih suka membaca stensilan daripada literatur kajian islam. Tentu saja pemikiran saya tentang berhala akan dibabat habis oleh kelompok pro-berhala. Saya akan mengakomodasi pemikiran kelompok abu-abu, yang tidak pro maupun kontra soal Jayandaru. Langkah pertama harus ada yang mau disalahkan atau dipaksa mengakui kesalahan. Siapa lagi kalau bukan pemerintah? Pejabat eselon atas Bupati Sidoarjo dan kroni-kroninya. Sederhana saja, kalau kata Asmuni ini adalah hil yang mustahal sekonyong-konyong CSR dikucurkan tanpa seijin penguasa. Terlebih lagi monumen dibangun di pusat kota. Alun-alun sebagai peninggalan feodal harus menempatkan hal-hal yang tidak tabu yang memicu kontroversial. Ide mulia CSR guna membantu menciptakan branding Sidoarjo tidak sepenuhnya layak di-berhala-kan. Ajaran Islam lebih luas sebagai rahmatan lill alaminn rahmat bagi seluruh alam.

???????????????????????????????

Berhala?

???????????????????????????????

Proses pemasangan Jayandaru

???????????????????????????????

Setinggi 7 meter

Lain cerita apabila patung-patung ini dibangun di luar kawasan ‘formal’ alun-alun kota. Selain akan menjadi pusat keramaian baru, maka akan menggerakan sektor industri kaki lima, lahan parkir, toilet umum dan landmark kota. Masalah lain juga akan membuntuti apabila tidak dipersiapkan dengan matang, seperti sampah, premanisme, fasilitas rusak, vandalisme dan keluhan masyarakat lainnya. Tidak bisa dipungkiri lokasi semacam demikian akan dijadikan lahan muda-mudi buat pacaran. Namanya juga anak muda.

Pada ujung tulisan yang singkat dan tidak berbobot ini, marilah mempertimbangkan nilai kemanfaatan yang didapatkan. Dari pada harus membinasakan Jayandaru yang sudah dikerjakan sepenuh hati. Pun mendebatkan status keberhalaan.