Monyet Api 2016 sebuah Kaledioskop Gagal

Tahun ini adalah tahun Monyet Api.

Entah kenapa 2016 berjalan terlalu cepat bahkan sangat cepat. Saya memulai awal tahun di Lombok dan nampaknya menjadi momentum jalan-jalan satu-satunya sepanjang tahun ini. Huhu. Eh lupa ya, mz. Oiya, saya sempat maen ke Balikpapan & Samarinda, dan pada penghujung tahun ikut Off Road ke Taman Nasional Meru Betiri. Lumajang lah ya, eh lumayan. Selebihnya berkutat dengan ngecek uang kas, bagi gaji, bagi uang jalan, bikin laporan harian, bikin invoice, pajak, rekap tagihan dan diomelin bos kalau beruntung. Meskipun bos notabene masih sanak kerabat, kalau ada salah dan lagi sumpek, yaa fardu ‘ain (wajib) diomeli  dulu, apalagi saya yang hanya butiran debu di bisnis perdagangan bahan bangunan.

Tulisan ini sebagai sebuah kaledioskop, (kalau nonton film itu bioskop, kalau biasa dibawa dokter stetoskop, kalau buat buat gali tanah skrop, kalau…. stop! Pleaseee, Mz. STOP!!!) Salah satu yang istimewa ketika untuk pertama kalinya saya beli kue tart buat Ibu yang berulang tahun ke-50. Usia Emas Kehidupan Seseorang. Kenapa baru sekarang?? Kemana ajaa saya selama ini. Huhu. Percayalah! selama hidup, saya baru dua kali beli kue tart kejutan ulang tahun. Pertama untuk Ibu. Kedua untuk seseorang yang sebut saja gembel (bukan nama sebenarnya, tapi nama panggilan, tapi sayang meskipun terlambat 🙂 ugh. #nowplaying Best I ever Had – Vertical Horizon.) Dua jenis manusia inilah yang sudah menyentuh alam bawah sadar saya, untuk selalu dicintai. Begitulah nampaknya, bukan manusia namanya kalau penyesalan ada di depan, karena yang di depan selalu Ya*ma*ha. Semakin di Depan.

Dari Api kembali ke Api.
Dari Tanah kembali ke Tanah.
Oktober tahun ini merupakan bulan berduka.

Saya kehilangan seorang nenek yang gahul dan tahes (baca : Sehat bugar) hingga masa senja. Bagaimana tidak, pada usia 70 tahun++ nenek saya ini masih sanggup naik angkot sendiri, keluar masuk pasar, On-Air di Radio (Suzzana Fm) dengan fisik prima tak berkacamata tapi kalah di jumlah gigi saja. Fyi, Beliau ini sudah menjadi fans setia radio tersebut sejak jaman Orba. Nenek saya sudah mendoktrin saya untuk keluyuran sejak dini. Beliau ini sudah mengajak saya ngetrip ketika saya masih usia tiga tahun, naik angkot Sidoarjo–Surabaya hanya untuk makan siang dan kembali lagi sesuai rute tanpa turun. Aduh. Ketika usia sekolah saya juga diajak nonton ludruk RRI di depan lapangan Kecamatan. Epic is the way of my life. Momen berduka satu ini, saya tidak begitu menyesak mengingat (menjelang tutup usia) hampir tiap minggu saya dan beberapa anak (tante dan om) beliau bergantian mengantar kontrol ke rumah sakit. Lebih dari tiga kali keluar masuk opname dengan penyakit yang hampir tidak ada, hanya masalah lambung yang mulai malfungsi. Semakin kesini kaledioskop ini menjadi obituari. Ehehe, maaf. Tetapi tetap saja saya menuliskan ini dengan menitihkan air mata. Al Fatiha.

 

 

P.S. kehilangan kata-kata. Mungkin Bersambungg…

Kejutan Kemiren

Saya menyesap kopi arabica untuk seruputan terakhir. Adzan magrib sudah pecah beberapa menit yang lalu. Sesegera mungkin saya mempercepat langkah menuju musholah terdekat (Pencitraan Point Collected). Hmmm. Saya terkejut ketika barisan piring telah ikut berjamaah di musholah. Iya, Piring. Jumlah piring yang sudah berisi makanan kelas berat, sedang dan ringan sudah terhampar sepuluh kali lipat jumlah jamaah manusia yang hadir, Saking banyaknya saya harus menggeser piring-piring berisi kenikmatan duniawi tersebut untuk memenuhi nikmat akhirat kelak, dengan sholat jamaah. (Cringgg… Pencitraan Point 2.0). Hari tersebut bertepatan dengan malam nisfu syaban, malam ditutupnya buku amalan manusia digantikan dengan lembaran buku dosa yang baru. Subhanallah.

Ketika ritus sholat magrib selesai, satu per satu mayoritas pak bapak mulai berduyun ke musholah. Sembari mengisi waktu luang dan situasi akward dengan pandangan penuh tanya masyarakat Kemiren, kemudian Saya memperkenalkan diri dengan Imam Musholah tersebut. Tanpa banyak pertimbangan saya sudah memilih posisi strategis pada tumpukan piring yang berisi aneka lauk pauk untuk memperingati nisfu syaban tersebut. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Ngeruwah. Kalau yang biasa bikin masalah disebut, Ngericuh.

Mungkin wajah melas namun meyakinkan, saya malah ditawarin untuk mampir ke rumah beliau. Dan saya mau saja. Duh, pemuda gembel nan gampangan. Begitu masuk ke rumah beliau, belasan foto Imam musholah tersebut bersama orang-orang terkenal negeri ini sudah menggantung pada dinding rumah kayu Masyarakat Osing. Singkatnya beliau mempunyai nama lengkap H. Djohadi Timbul, dan saya lebih sopan menyebut dengan panggilan Abah. Rejeki anak sholeh kemudian berlanjut ketika secangkir kopi hitam pekat datang ke hadapan saya bersama teman-temannya.

Situasi interaksi semacam demikian yang akan kita dapatkan ketika kita berkunjung ke Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi. Keramahan masyarakat kemiren dengan berbagai kearifan lokal yang mereka miliki yang menjadikan Pak Azwar Anas (baca: Bupati Banyuwangi) mem-branding sebagai wisata budaya di wilayah sunrise of java. Lebih lengkap dan kekinian informasi terkait Desa Wisata Kemiren bisa dipantau di Instagram @pesantogankemangi

Ada Apa di Balikpapan?

Malam itu masih ada 4 urutan antrian di depan saya. Demi mengisi kebosanan para pelanggan, pemilik Tukang Cukur Bolo Dewe (sebut saja: barber shop level bawah pohon rindang) menyediakan televisi 14 inchi yang diletakkan disudut atas ruangan.  Dua buah kipas angin telanjang (tanpa penutup) yang dinyalakan dengan kecepatan maksimal. Debu yang menempel di kipas tesebut bak Bedak BB Harum Sari (iklan jadul) yang nempel kayak perangko. Masih pada satu pandangan, koran pagi yang sudah lusuh dijamah tangan-tangan tak bertuan. Pada suasana seperti itulah seorang pemuda harapan bangsa sedang ragu memutuskan cara mengisi nikmatnya libur panjang akhir pekan. Jogjakarta? Bagaimana kalau Borneo?

Tak butuh waktu lama untuk menentukan antara Borneo atau Jogjakarta. Mohon maap lagu Kla Project kali ini tak cukup kuat untuk menghipnotis saya kembali ke Jogja. Terpaksa saya menghanguskan tiket Kereta Sri Tanjung bangku 15 A, karena banyak cicilan dan pecicilan saya baru menyadari bahwa tiket kereta sekarang sudah bisa di-reschedule jadwalnya. Sayang sekali, Bung!

Keputusan semacam demikian tak lepas dari harga tiket di Traveloka yang jauh lebih murah untuk destinasi yang keluar Pulau Jawa ketika libur panjang.. Maka kalau Tuhan sudah berkehendak maka terjadilah. Saya harus memilih penerbangan pertama demi harga termurah, meskipun bukan cinta yang pertama, insyallah rasa sayangku ini amanah. Eaaa. Ditemani gerimis awal mei, saya mendarat di Bandara Sepinggan dengan mulus tanpa luka gores akibat pemakaian.

Beberapa menit jelang mendarat, Balikpapan dari ketinggian ternyata sudah bopeng di sana-sini. Bayangan saya tentang Borneo yang masih gelap gulita oleh hutan hujan sirna sudah. Semakin lama, lamat terlihat petak kapling perumahan padat penduduk, yang berdiri di atas tanah berwarna merah kering. Lain lagi dengan Bandara yang konon katanya terbesar kedua se-Indonesia. Beuh, ada tiga lantai yang siap huni untuk sebuah bandara, kabar burung yang beredar bandar udara tersebut akan digabung dengan bangunan mall. Wuahhh! Gawl! Saking besarnya dan masih kinyis-kinyis, pihak Angkasa Pura kemudian lupa membenahi fasilitas yang harusnya ada, Mesjid. pada ruang keberangkatan cuma ada satu, satu saja musollah untuk 10 gate garbarata. Bayangkan apabila satu gate mempunyai 100 penumpang yang menunggu, dan 60% daripadanya orang islam dan (merasa wajib) sholat, maka ada 60 dikali 10 ada 600 orang yang mengantri untuk sebuah musholah mungil. Apalah yang tidak antri di negera tercinta ini, termasuk beribadah. Penjelasan yang cukup syariah untuk pencitraan terselubung penulis.

Balikpapan ternyata sebelas duabelas tigabelas kota besar di Jawa. Mall besar mulai menjamur dimana-mana, macet tapi lancar hmmm. Sebagai sebuah kota Balikpapan cukup bersih dari sampah atau mungkin saya datang ketika hujan dan kotoran bersih dari pandangan. Balikpapan juga dikuasai kilang minyak Pertamina. Sesekali tongkang berisi batubara sampe tumpeh-tumpeh ke sungai yang segede laut. Balikpapan layak dikunjungi kalau memang pemasaran eh penasaran.

Perjalanan Rasa

Pernahkah kita jatuh cinta tanpa direncanakan?! Mencintai seseorang yang tak dinyana kemudian menjadi rasa. Terlebih harus memendam perasaan, demi persahabatan. Demi menjaga perasaan orang lain. Demi waktu yang tepat. Demi orang-orang yang ada disekitarmu. Demi banyak hal. At the end no one care about it. No one care about you, but yourself. Dan pada akhirnya keduanya harus hancur berantakan. Bukankah mencintai dalam diam merupakan setulus perasaan, atau kita cuma digoda perasaan dan harapan. Sama ketika merencanakan sebuah piknik jalan-jalan, tanpa sadar kita sudah berkorban untuk orang lain. Menyesuaikan waktu dan berbagai macam tetek bengek-nya. Pada satu titik cuma diri kita sendiri yang harus peduli.  Please, take care of yourselfKalau semesta bekerja sesuai dengan apa yang kita pikirkan, membencimu adalah kekuatan yang sedang aku butuhkan. Biarlah aku jadi kabut bergunung-gunung harapan itu, mencintaimu sekali lagi dan lagi untuk kemudian jatuh sejatuh-jatuhnya ke jurang terdalam hatimu.

Air mata harus jatuh sekali lagi. Dada yang tetiba sesak. Aku pasir pantai yang tak bosan dihajar ombak pasang, yang setia memeluk laut biru matamu. Jum’at yang basah. Dear God, I need vacation!

Cerita dari Praya

Praya. Kadang masih tak percaya. Lima tahun terakhir membuat kenangan yang baru pada tempat yang sama. Pulau seribu masjid dan sejuta kangkung, Lombok. Alhamdulillah yaa, bisa terhempas manja di pasir pantai nan cerah dengan sunset merah merona. Meskipun harus dibayar kulit semakin hitam langsat dan bersisik ular kobra. Praya layaknya pintu masuk bagi yang datang dari mana saja. Kok Bisa? karena Bandara Internasional Lombok ada di Praya. (*menurut nganaaa… ) Ada juga pintu lain di bagian barat yakni Pelabuhan Lembar dan Kayangan di bagian utara. Kalau naik Bus turun saja di daerah Soetta.

Dua ribu lima belas mengajarkan akan banyak hal. Kalau kata Joko Pinurbo, tidak ada kesedihan yang sia-sia, waktu akan mengumpulkan pecahan-pecahannya untuk menyusun kebahagianmu suatu ketika. Hampir sepanjang tahun hasrat jalan-jalan tenggelam karena banyak hal. Sampai menit-menit akhir di pengujung tahun, ternyata liburan bersama keluarga (….Cemara. Kiri kanan ku lihat saja, Banyak pohon cemara. OKE. STOP!!!) terwujud juga. Terlebih bisa melewatkan malam pergantian tahun di Pulau yang ternyata sudah kucinta.

Ada kesedihan yang ternyata sudah menguncangkan jiwa, kehilangan sesuatu yang tak pernah kau sadari. Kehilangan seseorang yang sudah bersamamu tanpa diminta. Layaknya pesawat yang hilir mudik di Praya, mencintai layaknya menghidupkan kedua baling-baling agar segera terbang, karena yang pergi tahu akan jalan pulang. Berharap 2016 bergerak perlahan, untuk memunguti detik demi detik tanpa rasa cemas akan kehilangan. Sama ketika tulisan ini dilanjutkan berteman dengan musik blues (yang diputar random mas bartender berambut ikal yang jaga caffe sendirian), secangkir kopi aceh gayo arabica, dan rinduku berakhir pada mata yang berkaca-kaca.

Semua nampaknya mulai bergerak perlahan. Seperti tulisan ini yang harus diselesaikan bagian per bagian tanpa berkesinambungan. Kasian. Tanpa sadar pula tulisan ini diselesaikan ketika ulang tahun JanganJalanJalan yang ketiga. Yaiy! Kalau bayi usia tiga tahun mungkin sedang lucu-lucunya, digendong kesana-kemari, ketawa-ketiwi, sudah mulai berlarian ke sana kemari, bertanya ini itu, corat coret tembok, godaain gadis tetangga, tapi belum kenal patah hati. Kalau dalam psikologi perkembangan lima tahun awal adalah penentu kehidupan sepanjang hayat. Apakah blog ini akan bertahan hingga dua tahun ke depan hingga usia ke-lima? Ah, mari menerbangkan mimpi-mimpi sekali lagi. Langkah terdekat selanjutnya adalah Jogjakarta atau Balikpapan. Hmmm. Pada penghujung cerita, tulisan ini dilanjutkan di Rumah Sakit Airlangga ruang tunggu Radiologi. Wah, random sekali. Tidak ada yang sakit, hamil atau saya bertanggung jawab atas kehamilan seseorang. Hanya kebetulan numpang neduh kehujanan.

Selong Belanak

Selong Belanak, 1 Januari 2016

Senggigi, 31 Desember 2015

Senggigi, 31 Desember 2015

Ternyata dan ternyata, saya adalah golongan pemuda yang bertaqwa beruntung untuk menutup dan memulai pergantian tahun 2016 dengan indah. Akhir tahun 2015 saya disuguhi matahari tenggelam yang luar biasa di Ujung Senggigi, meskipun sepanjang hari langit berawan pekat sejak turun dari Sembalun. Belum selesai di sana, kurang dari 24 jam bisa memulai tahun baru dengan cara yang hampir sama, Senja di Selong Belanak. Do you sea it? Pantaaaai! Hmmm…dengan kondisi demikian saya masih lupa bersyukur. Duh, mulai mbrebes mili, resmi nangis©.

Finally Happy Birthday to Jangan Jalan Jalan™ semoga istiqomah menulis dan mengaji and Happy Birthday to me too, wish me luck and the best.

See you when I see you. I always Love You. Muach!

Blusukan Pulau Komodo 2015

OPEN TRIP!

This slideshow requires JavaScript.

Komodo merupakan hewan purba yang masih bertahan hingga peradaban modern seperti sekarang. Tak salah ketika Varanus Komodoensis (nama latin Komodo, Red) dinobatkan sebagai satu dari New World Seven Wonders tahun 2011. Sudah patut kiranya kita sebagai manusia Indonesia berbangga dan menyempatkan waktu untuk menikmati kehidupan kadal terbesar tersebut secara langsung di alam bebas. Atas dasar wangsit tersebut Jangan Jalan Jalan mengorganisir sebuah Trip yang berkedok, Blusukan Komodo 2015.

Konsep Blusukan dalam perjalanan tersebut adalah Jangan Jalan Jalan akan mengajak menikmati kehidupan masyarakat Kampung Komodo dari dekat. Kelompok masyarakat yang sehari-hari berbagi tempat tinggal dengan Komodo. Selama di Pulau Komodo kita akan menginap di salah satu rumah panggung milik penduduk. Rumah-rumah tersebut menghadap langsung ke Laut Flores, sehingga setiap malam kita akan ditemani deburan ombak air pasang. Mayoritas bangunan rumah menghadap ke sisi timur. Sudah barang tentu setiap pagi kita akan menikmati matahari terbit hanya dengan membuka jendela saja. Luar biasa, kan. Berada di antara lembah Gunung Ara menjadikan suhu di Kampung Komodo lebih sejuk dibandingkan kawasan pesisir kebanyakan. Dan masih banyak kejutan yang akan didapatkan dari Kampung Komodo dan kawasan Taman Nasional tersebut.

Agar program Blusukan tersebut memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Nantinya kami akan mengajak peserta trip untuk sukarela melakukan kerja bakti dengan bersih pantai. Memungut beberapa sampah yang terlihat. Sampah yang ditinggalkan tanpa tanggung jawab pemiliknya. Kalau bukan kita? Siapa lagi? Kapan lagi? Meskipun tidak secara keseluruhan minimal Blusukan ke Pulau Komodo memberikan makna dan bukti nyata cinta kepada Nusantara. Be Responsible Traveler!

Pengalaman perjalanan menikmati alam Indonesia semacam demikian sangat langka untuk didapatkan. Bukan sekadar menikmati panorama lanskap Komodo, melainkan juga menikmati suguhan alam dan budaya masyarakat Komodo secara bersamaan.

Segera ambil cuti atau butuh bantuan buat surat keterangan ijin sakit?

Lets Join!

WAKTU 14-18 Oktober 2015
MEETING POINT Labuan Bajo
HARGA Rp. 1.500.000/Pax
KUOTA 10 Pax Demi kenyamanan selama perjalanan,  maka jumlah peserta trip dibatasi maksimal 10 orang.

FASILITAS :

  • Transportasi PP dari Labuan Bajo ke Komodo
  • Tiket masuk kawasan wisata Taman Nasional
  • Biaya Penginapan (Rumah warga)
  • Perahu selama keliling Pulau Komodo menuju lokasi wisata
  • Makan untuk 5 hari
  • Tip Ranger Taman Nasional
  • Sewa kayak
  • Guide Lokal Pulau Komodo
  • Sewa life jacket dan alat snorkling

Harga tidak termasuk :

  • Asuransi
  • Biaya transportasi dari dan menuju Labuan Bajo, NTT.
  • Pengeluaran Pribadi

ITINERARY :

Rabu,

14 Oktober 2015

11.00 Berkumpul di pelabuhan Labuan Bajo

12.00 Berangkat menuju Pulau komodo dengan perahu motor

14.00 Mampir sejenak di P. Rinca (berfoto-foto)

16.30 Tiba di desa Komodo

17.00 Istirahat sambil menikmati sunset di dermaga

18.30 Makan malam

19.00 Acara bebas

Kamis,

15 Oktober 2015

 

05.30 Hunting sunrise di dermaga

06.00 Jalan-jalan ke pantai Pulau Komodo

08.00 Sarapan

09.00 Berangkat menuju Taman Nasional

10.00 Tiba di Taman Nasional, pendaftaran dan persiapan trekking

10.30 Berangkat trekking menjelajahi Taman Nasional Pulau Komodo (Banu Nggulung, Sulphurea Hills dan Fregatta Hills)

13.00 Mampir ke pusat oleh-oleh dan kerajinan p. Komodo

14.00 Kembali ke desa komodo

14.30 Makan siang

16.00 Berkeliling desa komodo

18.30 Makan malam

19.00 Acara bebas

Jum’at,

16 Oktober 2015

 

05.30 Hunting sunrise

07.00 Sarapan

08.00 Berangkat menuju pantai merah (Pink Beach)

09.00 Tiba di Pink Beach (snorkling, trekking ke bukit, bermain di pantai)
13.00 Menuju Pantai Pede

14.00 Snorkeling di Pantai Pede

17.00 Menuju Pulau Kalong

17.30 Menyaksikan sunset dan ribuan kelelawar di Pulau Kalong

18.00 Kembali ke desa Komodo

18.30 Makan malam

19.00 Acara bebas

Sabtu,

17 Oktober 2015

06.00 Trekking bukit desa Komodo

07.30 Sarapan

08.00 Berangkat menuju pulau Lasa

08.30 Tiba di pulau Lasa (snorkling, trekking ke bukit, bermain kayak)

10.00 Menuju Pantai Namong

10.30 Menikmati keindahan Pantai Namong yang berpasir merah

13.00 Kembali ke Desa Komodo

14.00 Makan Siang

15.30 Jalan-jalan di desa komodo, mengunjungi pengrajin patung komodo

18.30 Makan malam (bakar ikan)

19.00 Acara bebas

Minggu,

18 Oktober 2015

05.00 Persiapan pulang

06.00 Sarapan

07.00 Berangkat menuju Labuan Bajo

10.00 Mampir sejenak di Pulau Tatawa (tentative)

12.00 Tiba di Labuan Bajo

13.00 foto bersama dan trip berakhir

P.s. Karena keterbatasan penginapan dan kapasitas perahu maka peserta dibatasi hanya 10 orang saja. Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 30 September 2015 atau apabila kuota terpenuhi. Bagi yang berminat silahkan menghubungi contact person berikut.

 CONTACT PERSON Arif Abdillah

+6281233779232 / 544CCCB4 / Line: riphabdillah / riphabdillah@gmail.com /