Kejutan Kemiren

Saya menyesap kopi arabica untuk seruputan terakhir. Adzan magrib sudah pecah beberapa menit yang lalu. Sesegera mungkin saya mempercepat langkah menuju musholah terdekat (Pencitraan Point Collected). Hmmm. Saya terkejut ketika barisan piring telah ikut berjamaah di musholah. Iya, Piring. Jumlah piring yang sudah berisi makanan kelas berat, sedang dan ringan sudah terhampar sepuluh kali lipat jumlah jamaah manusia yang hadir, Saking banyaknya saya harus menggeser piring-piring berisi kenikmatan duniawi tersebut untuk memenuhi nikmat akhirat kelak, dengan sholat jamaah. (Cringgg… Pencitraan Point 2.0). Hari tersebut bertepatan dengan malam nisfu syaban, malam ditutupnya buku amalan manusia digantikan dengan lembaran buku dosa yang baru. Subhanallah.

Ketika ritus sholat magrib selesai, satu per satu mayoritas pak bapak mulai berduyun ke musholah. Sembari mengisi waktu luang dan situasi akward dengan pandangan penuh tanya masyarakat Kemiren, kemudian Saya memperkenalkan diri dengan Imam Musholah tersebut. Tanpa banyak pertimbangan saya sudah memilih posisi strategis pada tumpukan piring yang berisi aneka lauk pauk untuk memperingati nisfu syaban tersebut. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Ngeruwah. Kalau yang biasa bikin masalah disebut, Ngericuh.

Mungkin wajah melas namun meyakinkan, saya malah ditawarin untuk mampir ke rumah beliau. Dan saya mau saja. Duh, pemuda gembel nan gampangan. Begitu masuk ke rumah beliau, belasan foto Imam musholah tersebut bersama orang-orang terkenal negeri ini sudah menggantung pada dinding rumah kayu Masyarakat Osing. Singkatnya beliau mempunyai nama lengkap H. Djohadi Timbul, dan saya lebih sopan menyebut dengan panggilan Abah. Rejeki anak sholeh kemudian berlanjut ketika secangkir kopi hitam pekat datang ke hadapan saya bersama teman-temannya.

Situasi interaksi semacam demikian yang akan kita dapatkan ketika kita berkunjung ke Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi. Keramahan masyarakat kemiren dengan berbagai kearifan lokal yang mereka miliki yang menjadikan Pak Azwar Anas (baca: Bupati Banyuwangi) mem-branding sebagai wisata budaya di wilayah sunrise of java. Lebih lengkap dan kekinian informasi terkait Desa Wisata Kemiren bisa dipantau di Instagram @pesantogankemangi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s