Perjalanan Rasa

Pernahkah kita jatuh cinta tanpa direncanakan?! Mencintai seseorang yang tak dinyana kemudian menjadi rasa. Terlebih harus memendam perasaan, demi persahabatan. Demi menjaga perasaan orang lain. Demi waktu yang tepat. Demi orang-orang yang ada disekitarmu. Demi banyak hal. At the end no one care about it. No one care about you, but yourself. Dan pada akhirnya keduanya harus hancur berantakan. Bukankah mencintai dalam diam merupakan setulus perasaan, atau kita cuma digoda perasaan dan harapan. Sama ketika merencanakan sebuah piknik jalan-jalan, tanpa sadar kita sudah berkorban untuk orang lain. Menyesuaikan waktu dan berbagai macam tetek bengek-nya. Pada satu titik cuma diri kita sendiri yang harus peduli.  Please, take care of yourselfKalau semesta bekerja sesuai dengan apa yang kita pikirkan, membencimu adalah kekuatan yang sedang aku butuhkan. Biarlah aku jadi kabut bergunung-gunung harapan itu, mencintaimu sekali lagi dan lagi untuk kemudian jatuh sejatuh-jatuhnya ke jurang terdalam hatimu.

Air mata harus jatuh sekali lagi. Dada yang tetiba sesak. Aku pasir pantai yang tak bosan dihajar ombak pasang, yang setia memeluk laut biru matamu. Jum’at yang basah. Dear God, I need vacation!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s