Cerita dari Praya

Praya. Kadang masih tak percaya. Lima tahun terakhir membuat kenangan yang baru pada tempat yang sama. Pulau seribu masjid dan sejuta kangkung, Lombok. Alhamdulillah yaa, bisa terhempas manja di pasir pantai nan cerah dengan sunset merah merona. Meskipun harus dibayar kulit semakin hitam langsat dan bersisik ular kobra. Praya layaknya pintu masuk bagi yang datang dari mana saja. Kok Bisa? karena Bandara Internasional Lombok ada di Praya. (*menurut nganaaa… ) Ada juga pintu lain di bagian barat yakni Pelabuhan Lembar dan Kayangan di bagian utara. Kalau naik Bus turun saja di daerah Soetta.

Dua ribu lima belas mengajarkan akan banyak hal. Kalau kata Joko Pinurbo, tidak ada kesedihan yang sia-sia, waktu akan mengumpulkan pecahan-pecahannya untuk menyusun kebahagianmu suatu ketika. Hampir sepanjang tahun hasrat jalan-jalan tenggelam karena banyak hal. Sampai menit-menit akhir di pengujung tahun, ternyata liburan bersama keluarga (….Cemara. Kiri kanan ku lihat saja, Banyak pohon cemara. OKE. STOP!!!) terwujud juga. Terlebih bisa melewatkan malam pergantian tahun di Pulau yang ternyata sudah kucinta.

Ada kesedihan yang ternyata sudah menguncangkan jiwa, kehilangan sesuatu yang tak pernah kau sadari. Kehilangan seseorang yang sudah bersamamu tanpa diminta. Layaknya pesawat yang hilir mudik di Praya, mencintai layaknya menghidupkan kedua baling-baling agar segera terbang, karena yang pergi tahu akan jalan pulang. Berharap 2016 bergerak perlahan, untuk memunguti detik demi detik tanpa rasa cemas akan kehilangan. Sama ketika tulisan ini dilanjutkan berteman dengan musik blues (yang diputar random mas bartender berambut ikal yang jaga caffe sendirian), secangkir kopi aceh gayo arabica, dan rinduku berakhir pada mata yang berkaca-kaca.

Semua nampaknya mulai bergerak perlahan. Seperti tulisan ini yang harus diselesaikan bagian per bagian tanpa berkesinambungan. Kasian. Tanpa sadar pula tulisan ini diselesaikan ketika ulang tahun JanganJalanJalan yang ketiga. Yaiy! Kalau bayi usia tiga tahun mungkin sedang lucu-lucunya, digendong kesana-kemari, ketawa-ketiwi, sudah mulai berlarian ke sana kemari, bertanya ini itu, corat coret tembok, godaain gadis tetangga, tapi belum kenal patah hati. Kalau dalam psikologi perkembangan lima tahun awal adalah penentu kehidupan sepanjang hayat. Apakah blog ini akan bertahan hingga dua tahun ke depan hingga usia ke-lima? Ah, mari menerbangkan mimpi-mimpi sekali lagi. Langkah terdekat selanjutnya adalah Jogjakarta atau Balikpapan. Hmmm. Pada penghujung cerita, tulisan ini dilanjutkan di Rumah Sakit Airlangga ruang tunggu Radiologi. Wah, random sekali. Tidak ada yang sakit, hamil atau saya bertanggung jawab atas kehamilan seseorang. Hanya kebetulan numpang neduh kehujanan.

Selong Belanak

Selong Belanak, 1 Januari 2016

Senggigi, 31 Desember 2015

Senggigi, 31 Desember 2015

Ternyata dan ternyata, saya adalah golongan pemuda yang bertaqwa beruntung untuk menutup dan memulai pergantian tahun 2016 dengan indah. Akhir tahun 2015 saya disuguhi matahari tenggelam yang luar biasa di Ujung Senggigi, meskipun sepanjang hari langit berawan pekat sejak turun dari Sembalun. Belum selesai di sana, kurang dari 24 jam bisa memulai tahun baru dengan cara yang hampir sama, Senja di Selong Belanak. Do you sea it? Pantaaaai! Hmmm…dengan kondisi demikian saya masih lupa bersyukur. Duh, mulai mbrebes mili, resmi nangis©.

Finally Happy Birthday to Jangan Jalan Jalan™ semoga istiqomah menulis dan mengaji and Happy Birthday to me too, wish me luck and the best.

See you when I see you. I always Love You. Muach!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s