Selamat Datang Ngadisari, Hong Ulun Basuki Langgeng

Sepuluh kilometer terakhir aspal hitam meliuk dan berkelok mengikuti kontur kemiringan tanah. Sebuah sambutan memasuki wilayah Adminstratif Probolinggo yang tertinggi, Kecamatan Sukapura menuju desa terakhir, Ngadisari. Daerah tersebut merupakan pintu gerbang menuju Gunung Bromo. Suhu udara dipastikan mulai melemah beberapa derajat meskipun matari sedang terik menyengat. Perladangan sayur mayur di gugusan Pegunungan Tengger akan berjejar rapi di sepanjang Sukapura. Hampir seratus persen masyarakat menggantungkan hidup dari kesuburan lahan pertanian di kaki gunung dengan legendanya Roro Anteng dan Joko Seger tersebut.

Hong Ulun Basuki Langgeng bermakna salam kesejahteraan dan keselamatan bagi kita semua. Ungkapan itu pula yang terpampang begitu memasuki gapura Desa Ngadisari. Pohon cemara gunung mendominasi vegetasi di Ngadisari. Beberapa sudut lereng sudah terpetak-petak perladangan warga. Berada pada 7056’30” LS dan 112037’ BT, Ngadisari merupakan salah satu pintu masuk ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Desa dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl tersebut berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Di Desa Ngadisari keseluruhan penduduknya adalah Suku Tengger.

Gerbang Masuk Desa Ngadisari

Gerbang Masuk Desa Ngadisari

Secara Keseluruhan Penduduk Tengger mendiami sekitar 40 km dari utara ke selatan dan membujur seluas 20—30 km arah timur ke barat. Wilayah Adat Suku Tengger terbagi menjadi dua wilayah yaitu Sabrang Kulon (Brang Kulon diwakili oleh Desa Tosari Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan) dan Sabrang Wetan (Brang Wetan diwakili oleh Desa Ngadisari, Wanantara, Jetak Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.

Salah satu sudut perladangan penduduk Ngadisari

Salah satu sudut perladangan penduduk Ngadisari

Musim panen telah tiba

Musim panen telah tiba

Suku Tengger tersebar di beberapa desa di kaki Pegunungan Tengger dan Semeru antara lain: Desa Ngadas, Wanatara, Jetak, dan Ngadisari (Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo), Desa Wanakersa, Ledokombo, Pandansari (Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo), Desa Tosari, Baledono, Sedaeng, Wonokitri, Ngadiwono, Kandangan, Mororejo (Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan), Desa Keduwung (kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan), Desa Ngadirejo, Ledok Pring (Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan), Desa Ngadas (Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang), dan Desa Ranupani (Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang).

Suatu pagi di Desa Ngadisari

Suatu pagi di Desa Ngadisari

Mayoritas transportasi di Ngadisari

Mayoritas transportasi di Ngadisari

Salah satu tempat ibadah masyarakat Ngadisari

Salah satu tempat ibadah masyarakat Ngadisari

Sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan lereng pegunungan, 96,8% penduduk Ngadisari menggantungkan hidupnya sebagai petani. Jenis tanaman yang paling memungkinkan tumbuh pada lereng pegunungan Tengger adalah kelompok sayur mayur. Seperti kentang, wortel, bawang daun, tomat, sawi, kol putih, kol merah dan kembang kol. Sisanya penduduk Ngadisari memanfaatkan sektor perdagangan, jasa dan transportasi sebagai mata pencaharian dari keberadaan wisata Gunung Bromo.

Suhu udara di lereng pegunungan Tengger hanya mencapai belasan derajat celcius di siang hari. Desa Ngadisari termasuk kedalam daerah yang beriklim tropis seperti di daerah tengger lain dan daerah yang ada di Indonesia, dengan curah hujan 2000 m/tahun dan suhu rata-rata harian 10°C—20°C. Kabut bisa dipastikan sudah menghalangi jarak pandang ketika matahari mulai tergelincir ke barat. Agar dapat terus beraktivitas penduduk harus beradaptasi dengan kondisi tersebut. Perilaku adaptif dapat dilihat dari cara masyarakat Ngadisari dalam berpakaian sehari-hari. Kain sarung merupakan busana yang hampir pasti digunakan masyarakat Ngadisari untuk menghalau dingin. Penutup kepala, kupluk (bala clava) dan jaket tebal menjadi pilihan pakaian keseharian di desa paling ujung di Kecamatan Sukapura.

Tidak banyak pilihan transportasi umum yang bisa menjangkau setiap sudut di Ngadisari. Kebanyakan transportasi dari dan menuju Ngadisari hanya melayani permintaan wisatawan yang menuju Gunung Bromo. Menunggang kuda, jalan kaki dan motor yang sudah dimodifikasi merupakan pilihan transportasi yang digunakan untuk menjangkau wilayah Ngadisari yang berbukit dengan jalan yang berkelok dan menanjak.

Salah seorang pemangku adat Ngadisari

Salah seorang pemangku adat Ngadisari

Kumpul bocah

Kumpul bocah

Busana wajib, bersarung

Busana wajib, bersarung

Senyum hangat Ngadisari

Senyum hangat Ngadisari

Masyarakat Desa Ngadisari dipimpin oleh seorang Kepala Desa secara formal pemerintahan. Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, Kepala Desa akan berganti setiap 6 tahun sekali. Pemilihan juga dilakukan secara langsung dan terbuka oleh masyarakat. Sedangkan secara adat Ngadisari dipimpin oleh seorang pandita desa atau biasa disebut sebagai dukun desa. Pada proses memilih dukun, dilakukan melalui beberapa tahapan-tahapan (menyangkut diri pribadi calon dukun) serta garis keturunan dari calon dukun. Setiap calon dukun muda akan dikukuhkan oleh Pandita Desa Tengger dalam upacara Kasada yang bertempat di Pura Luhur Poten Gunung Bromo.

—Semua foto dalam postingan ini diproduksi oleh Yudha Handita Photography mengopi atau mengunduh file foto secara sengaja untuk kebutuhan komersial sangat diperkenanan dan diharapkan, sehingga bisa diperbincangkan lebih lanjut keuntungan finansial dari kedua belah pihak yang akan didapat. Daripada itu sang fotografer bisa lebih termasyhur dalam dunia persilatan tanah air. Sekian dan terima aku apa adanya. Cium aku sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s